//Recent Comments Settings var numComments = 5; var characters = 60;

01 July 2012

LOWBAT Part 7

ACER Episode 1
Lowbat part 6 bisa di klik disini

Setelah turun dari ojek, Lingside menghapiri Tar lalu memeluknya.

“Cici... Baba.. Baba..” sambil terisak-isak dan memeluk erat kakaknya, ia ingin menyampaikan sesuatu kepada kakaknya itu.
“Iya.. sabar ya..” walau sambil berkaca-kaca, Tar berusaha menguatkan adiknya.

“Baba.. Baba sudah tiada.. beberapa jam yang lalu sebelum Cici sampai.” air matanya semakin deras.
Tar berusaha menahan air matanya tapi tak bisa terbendung. Ada rasa sesal dalam hatinya, mengapa dia terlambat pulang ke Samarinda hingga tak sempat merawat Baba, bahkan tidak ada kesempatan sedetik saja melihat Baba dan mengatakan rasa sayangnya kepada Baba. Terlepas dari kesalahan masa lalunya, Baba tetaplah ayah kandungnya. Masa lalu biarlah jadi pelajaran saja, toh sudah lama Baba bertaubat dan menyesali perbuatannya di masa lalu. Kini yang ia lihat hanyalah sesosok tubuh yang membujur kaku di sudut ruangan itu, dikelilingi ketiga adiknya yang suara isak tangisnya semakin keras.
“Tidak, tidak, aku tidak boleh terlihat lemah di depan adik-adikku. Siapa yang bisa menguatkan mereka jika aku menangis seperti ini?” gumamnya sambil menyapu air matanya. Tar menghampiri adik-adiknya dan berusaha menguatkan mereka. Siapa lagi yang bisa menguatkan mereka selain dia. Tidak ada lagi yang mereka miliki selain kakak tertuanya. Ibunya sudah tiada.
Setahun setelah kepergian Rain ke Paris, Ga Ba Nget meninggal karena kecelakaan. Waktu itu hati Tar bercampur aduk. Di satu sisi ia merasa benci dengan ibu tirinya itu karena telah menjadi selingkuhan ayahnya, membuat ibu kandungnya kabur dari rumah dan melahirkan di dalam mobil yang entah siapa pemiliknya. Selain itu, setiap Tar berkunjung menemui keluarganya, Ga Ba Nget selalu terlihat sinis dan tidak menyukainya. Tapi di sisi lain, kata-kata Bak Wan selalu terngiang-ngiang bahwa ia tidak boleh membencinya, ia harus berusaha untuk selalu menyayangi ibu tirinya.
***
Setelah penguburan selesai, empat kakak beradik itu perlahan-lahan meninggalkan makam ayahnya. Tar selalu berusaha tersenyum hanya untuk menyembunyikan kesedihannya di depan adik-adiknya. Sampai tiba-tiba terdengar suara berdering dari dalam clutch cantik bernama lowbatt-antidote pemberian Rain. Dengan tergesa-gesa, Tar membuka clutch itu dan mengangkat teleponnya.
“Tar, gimana keadaan Baba?” suara Rain penuh perhatian. Tar diam saja.
“Tar..? Tar..? kok kamu diem aja?” tanya Rain penasaran.
“Baba udah.. Baba udah.... tuut...tuut..tuut” suara teleponnya terputus. Lagi-lagi Handphone Tar lowbatt. Dia lupa mengganti baterai cadangan. Wajar saja, sejak ia tiba di Samarinda, pikirannya hanya tertuju pada Baba. Sepulang dari makam, ia langsung mengganti baterai yang lowbatt itu dengan baterai cadangan. Beberapa menit kemudian, Rain menelepon lagi.
“Tar.. Babamu gimana?”
“Baba baru aja dimakamkan” Jawab Tar dengan nada sedih.
“Innalillahi wainnailaihi roji’un.. Aku turut berduka cita. Semoga amal ibadah Baba diterima oleh Allah SWT. Sabar ya Tar”
“Aamiin. Makasih Rain. Oiya, aku sepertinya nggak akan balik lagi ke Jakarta. Aku mau tinggal di sini sama adik-adikku. Aku mau cari kerja di sini.”
“Terus, gimana dengan film 3 Dasawarsa yang kamu impikan itu? Bukannya minggu depan kamu akan teken kontrak?” Tanya Rain seolah tidak ingin Tar selamanya di Samarinda. Ia ingin Tar kembali ke Jakarta. Sebenarnya bukan karena Tar akan teken kontrak di film itu, tapi lebih karena Rain tidak mau kehilangan Tar. Rain tidak mau jauh dari Tar.
“Aku udah gak peduli lagi dengan karierku sebagai artis. Aku sekarang mau fokus menjaga adik-adikku di sini”, jawab Tar tegas.
Hati Rain berkecamuk setelah menutup percakapan teleponnya dengan Tar. Tanpa sadar air matanya meleleh di kedua pipinya. “Kenapa Tar harus pergi dan tinggal selamanya di Samarinda? Terus gue gimana? Gue sama siapa? Siapa yang bakal ngingetin gue shalat? Siapa yang bakal dengerin gue curhat?” gumam Rain dalam hati. Rain masih dalam keegoisannya. Berbeda dengan dulu, sekarang ini bukan Tar yang bergantung pada Rain, tapi Rain yang bergantung pada Tar.
***
“Tal.. pokoknya lu halus ketemu Ihna Jong. Oe udah tua. Oe halus bikin sulat walisan.” Dengan nafas tersengal-sengal, Bak Wan memaksa Tar. Lalu Tar mencari rumah itu lagi, melewati tiga pos satpam dan 3 pohon besar. Sampailah ia pada satu rumah besar bertuliskan Ihna Jong dan bertemu dengan pria besar bernama Lowbatere. Tiba-tiba “kriing..kriing..” bunyi handphone Tar mengagetkan dan membangunkan Tar dari tidurnya.
“Hah..!! mimpi aneh itu lagi...” keluh Tar karena ini adalah ketiga kalinya ia bermimpi yang sama.
Sambil terkantuk-kantuk, Tar mengangkat telepon itu. “Ya ada apa Rain malem-malem gini nelpon?”
“Maaf aku ganggu tidur kamu Tar. Aku cuma mau ngasih tau kalau aku baru sampai di Samarinda. Aku mau bikin kejutan buat kamu. Aku sekarang nginep di hotel deket kantor pemda.” jawab Rain sambil tersenyum-senyum memperhatikan dirinya di depan cermin dan bergumam dalam hatinya, “hmm..ternyata gue ganteng juga dengan penampilan seperti ini...”

(bersambung...)


Tentang penulis:
Penulis masih bimbang, apa harus menggunakan nama pena “Rima Nurma” atau “Rimakasih”. Kedua nama itu sama-sama sering digunakan dalam berselancar di dunia maya. Tapi karena beberapa bulan lalu penulis sempat menciptakan lagu dengan memakai nama “Rima Nurma”, kali ini nama itu akan dipakai lagi. Ya “Rima Nurma” saja. Penulis berasal dari USA (Urang Sunda Asli). Ia lahir dan tumbuh besar di Bandung. Punya hobi internetan, menyanyi/karaoke-an, dengerin musik, menciptakan lagu, membaca cerpen (pernah menulis cerpen dan berusaha menulis novel juga tapi gak kelar-kelar), gambar-gambaran, curhat dan dengerin curhatan orang, nonton kartun dan drama korea, serta menambah wawasan yang berkaitan dengan dunia Islam.

4 comments:

  1. Love it Aurakasih eh, Rima Nurma XP.

    ReplyDelete
  2. Baru baca euy...Thumb 4 u teRimakasih

    Satu hal, jika Tar tidak bisa melanjutkan kontrak "3 dasawarsa" maka gua akan ambil alih! Sip!! ^^

    ReplyDelete
  3. Wuiii... saia jadi sutradara saja

    ReplyDelete