//Recent Comments Settings var numComments = 5; var characters = 60;
Showing posts with label ACER. Show all posts
Showing posts with label ACER. Show all posts

05 July 2012

LOWBART Part 8


 ACER  Episode 1
Lowbart part 7 klik disini

Aku masih duduk diatas salah satu dari tiga kursi kayu berukiran klasik dengan satu meja ditengahnya. Dihadapanku, kira-kira satu setengah meter, terdapat iringan music dari band local yang menyuguhkan tembang-tembang bernuansa pop-jazz atau lebih tepatnya lagu yang mereka mainkan terkesan mellow. Baiklah, tidak masalah selagi aku menikmati secangkir mocacinno yang tersuguh sekitar sepuluh menit yang lalu dari sang pelayan yang ramah nan ganteng, aku jadi teringat percakapanku bersama Rain saat kami masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Kala itu aku berkata pada Rain,

01 July 2012

LOWBAT Part 7

ACER Episode 1
Lowbat part 6 bisa di klik disini

Setelah turun dari ojek, Lingside menghapiri Tar lalu memeluknya.

“Cici... Baba.. Baba..” sambil terisak-isak dan memeluk erat kakaknya, ia ingin menyampaikan sesuatu kepada kakaknya itu.
“Iya.. sabar ya..” walau sambil berkaca-kaca, Tar berusaha menguatkan adiknya.

27 June 2012

LOWBAT (Part 6)


ACER Episode 1
Lowbat part 5 bisa di klik disini
Rain
Meja makan yang terletak di dapur  itu kecil saja. Walau mampu menampung 4 orang tapi tak pernah digunakan lebih dari mereka berdua. Rain kecil menatap punggung mamanya yang tengah mencuci piring. Sarapannya belum disentuhnya sedikit pun. Padahal itu adalah makanan favoritnya, omelet. Omelet buatan mama memang tak ada duanya. Telur yang dipukul pelan dimasak dengan api kecil memakai mentega. Kemudian potongan keju ditaburkan sesaat sebelum disajikan. Wangi  mentega dan lelehan keju yang menggantung dekat tampak tak mengusik fokusnya. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa orang tersayangnya itu baik-baik saja. Pagi tadi, tak sengaja ia melihat mamanya menangis sambil menatap foto orang itu.

24 June 2012

LOWBAT Part 5


ACER EPISODE 1

Rain tidak tau apakah ia harus bahagia dan sedih. Tadinya ia pikir traktiran Saebani akan mampu menghilangkan gundah hatinya terhadapa kenyataan yang berbalik 180 derajat dari bayangannya selama pencarian cinta sejati 3 bulan terakhir ini. Demi mendapati wajah Tar yang sedang mendung melebihi mendung hatinya, akhirnya ia urungkan niyatnya untuk curhat. Ia hanya diam, duduk di atas kasur sambil memperhatikan Tar yang perlahan-lahan packing pakaian ke dalam koper. Ia menduga-duga apa yang telah terjadi. Sama seperti dirinya, sejak mereka sama-sama mahasiswa, mereka berdua telah berhasil memecahkan rekor sebagai penghuni paling setia selama 5 tahun di kos “Nyemot” (Nyentrik dan Bermoetu)tersebut. Kalau dianalisa, nama kosan mereka memang aneh bahkan mungkin nama yang paling aneh diantara semua tempat kos mahasiswa yang ada di Ibukota. Mungkin, itu juga yang menjadikan kosan mereka sangat terkenal. Penghuni kosan Nyemot berasal dari berbagai daerah, latar belakang, kampus, dan profesi.
Rain telah berhasil menguasai emosinya. “Ada angin ribut apa Tar” tumben? Pulang kampung aja lo ga pernah bawa barang setumpukan gunung uhud gini?”
Tar yang sedari tadi sudah sadar kalau sahabat awetnya tersebut memasuki kamarnya yang tidak terkunci akhirnya buka suara. “Rain,” ia berhenti sejenak seolah sedang berusaha mengumpulkan suara “Gua gak tau pasti apakah  gua akan kembali ke Jakarta. Lo sendiri tau kan? Gua adalah anak tertua. Adek-adek gua masih pada sekolah. Tadi adek gua yang nomer 3 telpon, minta gua pulang sekarang juga. Baba diserang leukemia udah 4 bulan. Ternyata selama ini mereka sengaja sembunyiin ini dari gua, katanya baba ngelarang berita ini disampein ke gua, takut kuliah gua yang udah hampir kelar dan segala aktivitas gua keganggu”.
Dengan wajahnya yang pas-pasan, Tar adalah salah satu orang paling beruntung di dunia. Mahasiswa analis kimia cumlaude di satu universitas vaforit. Ketika akan diwisuda tiga bulan yang lalu, tawaran job dari berbagai perusahaan sudah mengalir kepadanya. Tapi diantara semua tawaran itu belum ada yang menarik hatinya. Ia hanya ingin mewujudkan impian masa kecilnya  yang sempat terpendam. Maka ketika dia melihat informasi casting untuk pembuatan film “3 Dasawarsa” di internet yang disutradarai oleh Dedi Mizwar, ia termasuk sebagai 10 pendaftar pertama. Obsesinya itu membuahkan hasil. Minggu depan adalah teken kontraknya dengan production house. Tapi impiannya yang sudah di depan mata tampaknya akan musnah demi baktinya kepada orang tuanya.


Tanah Samarinda masih sama dengan saat ia tinggalkan setahun yang lalu……
Meski sama panasnya dengan Jakarta, tapi rasanya panas Samarinda sekarang lebih menyengat. Terlintas di ingatannya tentang seorang yang ikut casting saat itu. Orangnya pendiam, sekali berbicara kata-katanya terasa berbobot dan menempel di hati. Saat pria itu menegurnya untuk menanyakan arah mushalla atau masjid, tiba-tiba ada suatu getaran yang tidak biasa ia rasakan. “Oh Tuhan…Jadikanlah ia pendamping hidupku”, Tar membathin.
“Ciciii……!!” Demi dilihatnya cici yang sudah lama di rantau orang itu turun dari ojek memasuki gerbang rumahnya, Lingside setengah berlari menghampiri.  

(bersambung… ^_^)


About Me!!
‘Sebesar pil’, itulah gambaran seorang yang sangat dibencinya ketika usianya masih esde, tapi rasa benci yang tidak beralasan tersebut pudar setelah mereka berusia dewasa, setelah mereka sempat terpisah selama kurang lebih 8 tahun.
Meski temannya pernah mengatakan demikian, tetapi dengan bobot dan tinggi yang proporsional menjadikannya merasa selalu imut. Meski kecil (kalimat yang lebih tepat adalah ‘masih kurang bertumbuh’ >_<) , dia punya cita-cita yang sangat besar : Seperti namanya “Tsurayya,” ia ingin menjadi bintang. Kata guru esde-nya,bintang itu bisa menjadi penunjuk jalan bagi orang yang tersesat. Kalau bintangnya matahari, bisa memberikan kehangatan, harapan kehidupan, dan cahaya untuk semesta.
Oyah! sebenarnya .., di usianya yang telah melampaui seperempat abad tersebut dia masih pede berharap pertumbuhan badannya tetap berlanjut. Kali aja ada mukjizat special yang akan hadir seperti halnya keajaiban akan ending Novel perdana “Special Ticket for a Special Person” yang sedang dia garap. Bantu doa ya teman-temin ^o*
Jika teman-teman mau mencari dia di dunia fiksi nan maya panggil aja “REI”. Sesimple namanya, meski dia kirei, dia sebenarnya pribadi yang simple dan blak-balakan. Yaaah…mungkin orang yang baru melihatnya akan mengatakannya calm (www.pd.co.id). Asal jangan dimiripkan dengan Mister Simple SuJu dia akan oceoce aja koq!
Satu lagi!! Seperti namanya yang merupakan perpaduan dari beberapa Negara di dunia, dia punya cita-cita ingin keliling dunia…..

*****“Nyatanya kita berada di Maya tapi Maya juga Nyata adanya”*****


Rei el Tsurayya de Amora
alias Ismayani binti H. Safaruddin Nasution


  




  

        
    

22 June 2012

LOWBAT (Part 4)


ACER episode 1
Lowbat part 3 bisa diklik disini

 
Rain berangkat untuk menemui janjinya dengan Smile, sang manajer sekaligus pujaan hatinya. Senyum selalu terkulum dibibir Rain, baginya hari ini indah, ceria penuh makna. Tanda orang yang sedang jatuh cinta. Bahkan jantungnya pun selalu berdegup kencang bila mengingat sebuah nama.

21 June 2012

LOWBAT (part3)


ACER Part 1
Lowbat Part 2 bisa di klik disini

Dengan nafas tersengal-sengal Tar bangun dari tidurnya. ‘Mimpi yang aneh’ begitu pikirnya. Ini pasti karena ia terlalu kesal dengan gadget yang kini ada disamping tempat tidurnya. Berkali-kali Hp itu bermasalah dengan batereinya yang sering low, sampai-sampai ia pernah berniat untuk menjualnya, tapi kemudian ia mengurungkan diri karena teringat bahwa Hp itu adalah hadiah pemberian orang yang sangat ia sayangi, Bak Wan.

19 June 2012

LOWBAT (part 2)


ACER Episode 1  
Oleh : Windi Hastuti
lowbat part 1 bisa di klik disini 

Tardulude. Begitu nama lengkapnya. Mendongak sekali lagi kelangit yang tidak mungkin lagi bisa diajak kompromi, kecuali doa-doa yang ia harap akan dikabulkan.
“Pliss... jangan ujan dulu... aku kan nggak bawa payung...” selorohnya sambil menahan kesal karena handphonenya ‘mati suri’. Tapi dalam hati ia bersyukur karena masih ada jam tangan anti air yang tidak akan lowbat dalam jangka waktu tertentu.

17 June 2012

LOWBAT


Acer episode 1
Oleh : Rini Apriani
Lowbat part 2 bisa di klik disini

Sore itu langit berwarna abu tua, tertutup oleh bergumpal awan raksasa dengan berat berlebih. Hanya tinggal menunggu waktu sampai kantung-kantung air itu robek dan memuntahkan kandungannya. Hal itu menjadikan suasana jalan utama di komplek Amora terasa sibuk. Kendaraan roda dua dan empat berseliweran dalam kecepatan sedikit melebihi batas aman kawasan penduduk, melewati orang-orang yang berjalan tergesa dengan was-was.

Salah satunya seorang gadis berjilbab merah marun yang berjalan setengah berlari, terdengar panik dalam percakapan telpon. Terlebih, suara Tut..Tut Hand Phone yang  terkadang menyela percakapan semakin membuat dirinya kalang kabut.

“Tar,  kalo dah ketemu  pos satpam yang deket pohon kapuk,  belok kiri trus tar belok ke kanan...” ucap suara melengking diujung telpon dengan tempo cepat.

“Hah? Pos satpam yang ada pohon kapuk?” Jawab gadis itu sambil mengkerut, dengan tempo yang tak kalah cepat.

Tut..Tut... Hand Phone dalam genggamannya berbunyi lagi.

 “Iya, Pos Satpam yang sebelahnya pohon kapuk gede! Trus tar bel....” 

Tut..Tut. 

Lalu senyap.

Gerak gadis itu langsung terhenti. Terperangkap dalam beberapa detik yang beku. Hingga akhirnya, tangan yang menggenggam Hp yang layarnya kini berwarna gelap itu, perlahan turun menelusuri sisi tubuhnya yang lesu. 

Ini bukanlah kali yang pertama. Gadget yang dulu merupakan kebanggannya itu, kini memang semakin sering mengecewakan dirinya. Seiring meningkatnya intensitas gemuruh dalam hati, genggamannya terhadap gadget itu semakin keras seakan hendak menghancurkannya dalam sekali genggaman.

Namun angin yang awalnya kering, mulai terasa lebih lembab. Membangunkan akal sehatnya untuk segera melanjutkan  perjalanan. Meski untaian kata yang diucapkan lawan bicaranya tadi masih seperti kepingan puzle tak lengkap, namun yang pasti ia kini harus menemukan pos satpam yang bertetangga dengan sebatang pohon kapuk raksasa.

(Bersambung)
***

Tentang Penulis
Nie adalah nama panggilan sejak kecil yang diambil dari kata terakhir dari nama depan dan belakang asli penulis. Disebabkan tingkat kesakralannya yang tinggi, maka nama Nie juga dicatut sebagai nama samaran penulis. Perlu diingat, pengucapan Nie yang benar adalah Ni bukan Ni-ye apalagi Ni-eu. Meskipun dinama asli kata Ni tidak menggunakan huruf “e”, namun penambahan huruf “e” ini dirasa URGENT agar lebih berkesan artistik. Sekiranya cukup sekian, karena segala informasi yang berkaitan dengan pribadi penulis adalah bersifat TOP SECRET.